Sebuah video pendek dari sebuah kelas di Garut ramai di media sosial. Isinya sederhana: seorang guru sedang mengajar seperti hari-hari biasa. Yang membuat video itu menyebar bukan cara mengajarnya, melainkan cerita di baliknya, sepulang sekolah guru tersebut berkeliling menjual bakso. Yang mengunggah bukan wartawan, bukan akun gosip. Siswanya sendiri.
Tidak ada drama yang dipaksakan di rekaman itu. Tidak ada narasi sedih yang ditempel belakangan. Justru kesederhanaannya yang membuat orang berhenti dan menonton sampai habis. Kita melihat seorang guru berdiri di depan kelas, menjelaskan pelajaran, sementara di luar jam mengajar ia mendorong gerobak di jalanan. Dua hal yang seharusnya tidak perlu dipertemukan dalam satu hidup.
Apa yang Sebenarnya Bikin Video Itu Viral
Video guru mengajar sambil berjualan bukan hal baru. Yang baru adalah cara cerita itu sampai ke kita: lewat mata seorang siswa yang merasa perlu membagikannya. Anak-anak di kelas itu tahu gurunya jualan. Mereka melihat sendiri, mungkin pernah membeli, mungkin pernah mampir. Ketika mereka mengunggahnya, yang mereka bagikan bukan rasa kasihan. Lebih ke rasa bangga yang bercampur tidak percaya.
Respons netizen pun terbelah. Sebagian mengirim doa dan dukungan. Sebagian lain langsung bertanya soal kesejahteraan guru. Sebagian lagi mengomentari hal lain sama sekali, dari harga bakso sampai cara mengajar. Begitulah media sosial bekerja. Satu video bisa memicu sepuluh percakapan berbeda dalam waktu sehari.
Yang perlu dicatat, video viral sering hanya menampilkan potongan. Kita tidak tahu bagaimana keseharian guru itu sebenarnya, berapa lama ia sudah berjualan, atau bagaimana ia mengatur waktu antara kelas dan gerobak. Jadi lebih bijak kalau kita menahan diri untuk tidak menambah-nambahi cerita yang tidak kita ketahui.
Kenapa Banyak Guru Honorer Harus Punya Penghasilan Tambahan
Kalau kita jujur, kasus di Garut ini bukan kejadian langka. Ia hanya kebetulan terekam dan kebetulan tersebar luas. Di banyak daerah, guru berstatus honorer menerima upah yang jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga. Mereka mengajar dengan jam yang tidak sedikit, menyiapkan bahan ajar, mengoreksi tugas, tapi penghasilan bulanannya tidak sebanding dengan beban itu.
Karena itu, pekerjaan sampingan jadi hal yang wajar. Ada yang berdagang, ada yang membuka warung, ada yang mengantar paket, ada yang mengajar les. Tidak semua terlihat di media sosial. Yang terlihat hanya yang kebetulan viral.
Yang membuat kasus ini menyentuh adalah pilihannya. Menjual bakso keliling bukan pekerjaan yang gampang dijalani sambil tetap tampil rapi dan siap mengajar besok pagi. Butuh tenaga ekstra, dan yang lebih berat, butuh keberanian untuk tidak malu. Apalagi ketika siswa sendiri yang menyaksikan.
Jangan Jadikan Kisah Ini Sekadar Tontonan
Ada pola yang berulang setiap kali cerita semacam ini muncul. Ramai sehari, dua hari, lalu tenggelam oleh berita lain. Guru yang bersangkutan kembali mengajar, kembali berjualan, dan keadaan tidak banyak berubah. Kita sebagai pembaca sering merasa sudah peduli hanya karena ikut membagikan videonya.
Padahal kalau memang ingin ada perubahan, perhatian publik perlu diarahkan ke hal yang lebih konkret. Misalnya, bagaimana status kepegawaian guru honorer di daerah diurus, bagaimana kesejahteraan mereka dihitung, dan bagaimana sekolah di pelosok bisa mendapat tenaga pengajar yang cukup tanpa harus mengandalkan orang yang mau dibayar seadanya.
Itu pekerjaan panjang. Tidak selesai dengan satu video viral. Tapi setidaknya, ramainya cerita ini bisa jadi pintu masuk untuk membicarakannya lagi, dengan serius, bukan cuma sebagai bahan komentar.
Yang Bisa Kita Lakukan Tanpa Perlu Jadi Pahlawan
Tidak semua orang punya kuasa mengubah kebijakan. Tapi ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.
- Jangan ikut menyebar informasi yang belum jelas. Kalau mau membagikan, cek dulu sumbernya. Jangan menambahkan detail yang tidak ada di video aslinya.
- Hargai guru di sekitar kita. Yang paling dekat: guru anak kita, guru tetangga, guru di kampung. Perhatian kecil sering lebih berarti dari yang kita duga.
- Belanja kalau kebetulan bertemu. Kalau ada guru yang berjualan di sekitar rumah, membeli dagangannya adalah bentuk dukungan paling langsung.
- Bicarakan kesejahteraan guru dengan serius. Bukan sebagai bahan debat politik semalam, tapi sebagai hal yang memang perlu dibenahi.
Guru yang Mengajar Sambil Berjualan Bukan Cerita Lucu
Ada godaan untuk membingkai kisah ini sebagai hal yang mengharukan sekaligus menginspirasi. Seolah guru yang mau banting tulang itu luar biasa, dan itu sudah cukup. Padahal masalah aslinya bukan pada ketangguhan seseorang, tapi pada keadaan yang memaksa orang sekuat itu untuk bertahan.
Mengajar sambil berjualan bakso bukan pilihan yang diambil karena ingin jadi teladan. Itu pilihan yang diambil karena tidak ada pilihan lain. Kalau kita terus mengagumi tanpa bertanya kenapa, kita cuma menutup masalah dengan tepuk tangan.
Yang jelas, siswa di kelas itu sudah memberi pelajaran yang tidak ada di buku. Mereka melihat langsung bagaimana seseorang tetap datang ke kelas meski hidupnya tidak mudah. Entah mereka sadar atau tidak, itu pelajaran tentang ketekunan yang tidak bisa dijelaskan lewat teori.
Sekarang giliran kita yang menonton. Mau berhenti di tombol bagikan, atau ikut memikirkan hal yang lebih jauh.